Kamis, 23 April 2015

Selamat Hari (Random) Buku ! :)



Assalamualaikum


Menindaklanjuti ulasan dari temannya teman saya (Apit) yang setelah saya liat sebut saja namanya Titis yang bilang "Harus ya suasana hati kacau dulu baru jari mau gerak", jadilah entri ini dibuat. Sedikit banyak bener, sih. Orang cenderung nuangin apa yang abis direnungin, dan seringnya, orang merenung kalau hatinya lagi random. Orang yang suka baca belom tentu suka nulis sekalipun cuma tulisan ngerandom. Tapi orang yang mau nulis sesuatu sepertinya punya kebiasaan membaca. Entahlaah. Maklum, lagi random. (tema: random).

Hem, mungkin untuk orang-orang yang punya kebiasaan ngelampiasin perasaannya dengan baca buku hal ini gak asing. Sore-sore gabut dateng ke toko buku. Nerd banget emang. Orang-orang jenis ini somehow bisa keliahatan dari gerak-geriknya. Sendirian, fokus sama buku, apalg novel science fiction. Udah hampir 70% skala ga jelas dia lagi ngelampiasin perasaannya dengan masuk ke dunia fantasi dalem bukunya. Bikin lupa sama dunianya yang sekarang. Btw, Lo bisa lihat ketertarikan seseorang dari buku yang suka dia baca. Pilihan-pilihan buku yg ada di tangannya. Tempat terlama dia berdiri kalo lagi di gramedia. well, toko buku itu tempat dimana orang-orang yang sudah berpengalaman bahkan ahli, menuangkan isi pikirannya. Bisa jadi, hal yang lo anggep masalah, jawabannya bisa lo temuin di salah satu isi buku.

Seperti hari ini. Setelah kerandoman perasaan yang nggleyotin dari kemarin2, berangkatlah gue ke toko buku deket kampus. Saking randomnya hati gue, gue muter2 aja di sana tanpa tahu musti ngapain. Bolak balik ke bagian novel dan dengan tumbennya gak ngerasa tertarik sama bestseller terbaru. Niatnya mau nyari buku Everville tapi ternyata kosong. Sampelah di salah satu rak, tempat trilogi 5 menara. Siapa yang gatau seri yang mulai booming jaman gue smp ini ye kaan? Baca buku jg jodoh-jodohan. Sesuai selera. Selagi gue baca trilogi ke-3nya yang Rantau, gue nengok ke bagian kiri rak.

Dua buku berjudul Aku Doamu, dan Tuhan mengujimu dengan cinta, oleh satu pengarang, A.K.
Dua buku yang cukup nonjok hati, yang berhasil bikin sadar tentang harapan dan keterlibatan Allah dengan segala yg sedang terjadi. Buku yang sampe bisa bikin gue telat masuk teater film Avenger Age of ultron. Keren. Karena hikmah bisa dateng dari mana saja, karena Allah bisa menyadarkan dan memberi ketenangan dengan cara-Nya. Bersyukur banget-banget saat masih dikasih kesempatan melihat hikmah itu. Tandanya hatinya belum tertutup, meski semua orang punya sisi gelap masing-masing. Meski cuma lewat buku kecil tipis yang mungkin muat di bagian depan tas gue.  Karena segala yang ditulis dengan hati akan sampai ke hati orang lain yang membaca. 
Kita gak pernah tahu dari tulisan mungkin bisa menumbuhkan harapan orang lain, well, minimal diri sendiri. Minimal sekali, saat di kemudian hari kita kembali membuka jurnal pribadi kita, dari situ bisa cek, maju atau mundurkah diri kita. Minimal sekali, kita bisa lihat sejauh apa kita terhempas dari jalan yang seharusnya kita fokuskan buat tujuan. Di kegiatan sehari-hari, terlalu banyak hal yang berhasil ngalihin fokus, mengacak-aduk perasaan. Dari sana perlahan kita semakin bergeser menjauh dari tujuan yang mungkin awalnya bikin kita semangat. Bikin kita bahagia. Tentang orang-orang yang kita cintai, tentang mimpi-mimpi yang masih menggantung. Lupa kalo Allah lagi manggil dan nunggu kita meraih itu semua. 

Kadang justru saat terlemah kita adalah saat sedang merasa bahagia. Di saat itulah hati kita mudah patah. Transformasi dari saat2 kita seneng ke tiba-tiba ada hal yang bikin jatuh itu bagian yang ga enak. Sebaliknya, hati kita kayak baja saat ditempa rasa sedih. Definisi kuat mungkin terpancar dari orang-orang yang bisa ngendaliin dirinya, menjaga sebaik-baik penampilan dalam seburuk-buruk perasaan. Saat dilanda kemumetan yang bikin geregetan sendiri, mungkin di situ saat kita musti mundur sejenak dan kembali melihat gambaran diri kita secara besar. Apa sih yang lagi gue lakuin? Kenapa sih gue seberantakan ini? Terus udah aja ngerenungin sambil tetap berusaha dan pasrahin hasilnya ke Allah. Seengganya itu yang bisa dilakuin remaja 19 tahun labil macam saya, yang dengan kelabilannya dibikin galau sama banyak hal. Padahal masih muda weey, waktunya bahagia.

Hem, mungkin karna kelabilan itu kita butuh teman buat ngingetin saat kita udah ribet sama kesedihan sendiri. Kita perlu diingatkan bahwa urusan kita yang mumet itu, harapan kita yang putus, dan hati yang berantakan itu, pada dasarnya ada Zat yang Mahakuat yang dapat menghandle semuanya, tempat segala kesenangan dan kesedihan kembali, sekokoh-kokohnya sandaran, Allah. Kita perlu diingatkan bahwa semua akan baik-baik saja. Dan kadang, sahabat yang baik dan jurnal pribadi bisa ngingetin hal-hal itu. "ucet, akut banget gue galaunya dulu ampe begini bgt tulisannya. Tapi toh skrg seengganya gue masih ada dan bae-bae aja". Terus udahannya senyum-senyum sendiri, ya ampun, dulu gue sesedih ini, ya. Sama, 
mungkin sekarang kita lagi berantakan (kita?). Beberapa waktu ke depan, saat kita buka lagi lembar saat ini, kita juga akan tersenyum, "ya ampun, gue pernah serandom ini. Dan Alhamdulillah pernah ditimpain hal kayak gini, bisa bikin lebih kuat, lebih kekempa, kayak Arkenstonenya bangsa Dwarf di film The Hobbit. Lebih bernilai."

Oke, sebenernya cerita ini kayaknya gak punya kalimat utama di tiap paragrafnya, ceritanya loncat-loncat gak ada kaitan kesinambungan dari awal sampai akhir. Bahkan mungkin gak punya intisari cerita selain tentu saja, kerandoman. Tapi yasudahlah, mumpung masih muda, random wajar. Seengganya random yang produktif. wkwkw.

Baiklah, btw, selamat hari buku :) hargai buku-buku yang bersedia hadir di sela-sela keseharian, karena buku dekat dengan ilmu, dan ilmu dengan dekat dengan derajat yang ditinggikan. Cheers!! :))

0 komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan baik :)